Main menu:

Idrus Ibnu Tarmidzi

Stop Kekerasan pada anak

Stop Kekerasan pada Anak
Oleh
Dr. Drs. Muhammad Idrus, S.Psi., M.Pd

Ini adalah dunia yang penuh kekerasan, demikian kalimat pembuka Breakwell (1998) dalam bukunya Coping with aggresive behaviour, kita dikelilingi dengan agresi dan kita semua secara pribadi pernah mengalami serangan-serangan fisik maupun emosional. Tampaknya pernyataan Breakwell tersebut tidaklah terlalu berlebihan, setidaknya banyak situasi yang menjadi pembenarnya.
Peristiwa yang lebih baru dan yang lebih menohok peradaban kita adalah adanya peristiwa pembunuhan anak yang dilakukan orangtuanya. Di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, gadis usia tujuh tahun yang sering dianiaya, dibunuh ibu tirinya setelah diperkosa pamannya sendiri (Kompas, 3/1/2006). Eka gadis itu, meregang nyawa di tangan ibu tirinya, dan yang tak kalah nggegirisi cekikan maut ibu tirinya bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan anak perempuan berambut ikal ini kehilangan nyawa.
Selama setahun, Eka menjadi korban kekerasan seksual oleh paman tirinya, Ambo Ase, Eka bukan cuma diperkosa namun juga disodomi. Eka kecil, tak berani melapor pada ibu tirinya yang setiap harinya tak pernah bersikap ramah padanya. Bocah kecil itu menyimpan kisah penderitaannya sendirian, tiada tempat baginya untuk mengadukan semua penderitaan yang dialaminya.
Melapor pada ayah kandungnya juga bukan sebuah pilihan tepat. Sebab sang ayahnya yang gemar mabuk dan memukul ibu tirinya, tentunya tidak pula peduli. Eka akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah ibu tirinya mencekik lehernya, ironisnya kejadian itu tak lama berselang setelah Eka diperkosa Ambo Ase sang pamannya sendiri. Berawal dari tangisan Eka yang merasa kesakitan setelah disodomi, rintihan dan tangisan Eka rupanya mengganggu tidur siang sang ibu tiri. Pada akhirnya akumulasi masalah ekonomi dan dendam lama pada ayah kandung Eka, memicu stress sang ibu tiri hingga akhirnya tega mengakhiri hidup anak tirinya.
Berselang tak lama setelah peristiwa di atas, dua balita kakak beradik dibakar ibunya hidup-hidup di Kecamatan Serpong, Tangerang (Kompas, 4/1/2006). Lintang, 3,3 tahun harus meregang nyawa setelah sembilan hari berjuang dengan rasa nyeri dan pedih di sekujur tubuhnya yang mengalami luka bakar.
Yeni, sang ibu kandungnya, mengaku kesal karena tekanan ekonomi keluarga serta dipicu oleh kebiasaan suaminya yang kerap mabuk-mabukan. Ia begitu tega menyiramkan minyak tanah pada tubuh kedua anak kandungnya yang seharusnya disayang dan dikasihi. Nasib baik masih berpihak pada adik Lintang, Indah, 12 bulan yang berhasil melewati masa kritis dan akhirnya selamat, dengan membawa luka fisik dan psikologis yang sulit tersembuhkan.
Tampaknya sejarah terus berulang beberapa hari setelah kejadian itu, kembali peristiwa yang hampir senada menimpa Siti Ihtiatuh Solihah (Tia, bocah 10 tahun) yang disetrika leh ayah kandungnya karena dituduh mencuri uang (Kompas, 11/1/2006). Punggung Tia disetrika ayah kandungnya usai diinterogasi karena dituduh mencuri uang ayahnya. Kini, kendati Tia telah hampir pulih, trauma psikis membuat Tia dengan lantang menyebut ia sangat membenci ayahnya dan tak akan memaafkannya.
Rupanya kekerasan dan pelecehan terhadap anak (child abuse) bukan hanya dialami mereka yang berasal dari ekonomi lemah. Amy Victoria Chan (10 tahun) dan Ann Jessica Chan (9 tahun) dua bocah gedongan mengalami perlakuan kekerasan dari ibunya (Ratna Djuwita Gunawan) selama berada di Kanada sejak pasca kerusuhan Mei 1998. Amy mengaku selama di Kanada ia dan adiknya acap kali ditendang, dipukul, dicekik, diseret ke tembok, dikurung dalam kamar gelap, kepalanya dimasukkan ke kloset lalu disiram air. Bahkan saat musim dingin dia pernah dihukum di luar apartemen tanpa jaket, hingga hidungnya berdarah.
Agak berbeda sedikit “model siksaan” yang diderita dua anak gedongan ini, selain siksaan fisik mereka juga harus mengalami siksaan “ambisi elitis orangtua”, seperti keharusan mengikuti berbagai kegiatan les piano, kumon dan ski, sedangkan waktu bermain dan menonton televisi dibatasi hanya beberapa menit. Dari hasil pemeriksaan psikolog, kedua bocah ini mengalami trauma riil akibat kekerasan ibu kandungnya, dan membutuhkan waktu sampai dua tahun untuk memulihkan keadaan dirinya. Lantas apa komentar Amy, ketika ditanyakan jika hak asuh anak jatuh pada sang ibu dan menjadikannya kembali tinggal bersama ibunya, “kalau saya harus tinggal dengan ibu, tinggal menunggu saja kematian…”.
Inilah kenyataan, gambaran masyarakat kita yang tampaknya mulai akrab dengan scripft kekerasan. Sebuah pola yang terbentuk lama dan tersimpan dalam memori individu, yang suatu saat dapat meledak hanya karena dipicu satu peristiwa yang tampaknya sepele. Kekerasan muncul dalam pelbagai bentuk, dan intensitas yang terkadang sulit dibayangkan akal sehat kemanusiaan.
Tampaknya penggunaan kekerasan menjadi suatu hal yang biasa dalam masyarakat. Kekerasan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan siapa saja, bahkan orangtua korban sendiri begitu tega melakukan kekerasan pada anak-anak mereka. Kekerasan tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat negara, bangsa, bahkan telah merambah masuk pada wilayah rumah tangga dengan intensitas dan variasi yang meningkat.
Pelbagai tindakan kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada anak, dalam bahasa psikologi kerap disebut sebagai child abuse, perlakuan kejam pada anak. Ada empat model child abuse. Pertama emotional abuse, perlakuan ini muncul dengan modus membiarkan dalam kondisi tidak menyenangkan yang dialaminya. Kedua, Verbal abuse, terjadi ketika si ibu –atau siapa saja yang dekat saat itu dengan anak-, membalas atau merespon reaksi anak dengan kata-kata perintah dan larangan, misalnya menyuruh anak itu untuk “diam” atau “jangan menangis”. Lantas jika anak mulai berbicara, maka ibu akan meningkatkan agresi verbalnya misalnya dengan ungkapan membentak atau bahkan menghinakan.
Ketiga adalah physical abuse, berupa tindakan kekerasan seperti pemukulan atau menyakiti anak secara fisik. Tentu saja saat proses ini berlangsung akan disertai dengan agresi verbal yang melecehkan anak, serta membuat anak down. Tidak jarang ditemui di masyarakat ada orangtua yang telah memiliki “alat khusus” untuk memukul anak, seperti rotan, ikat pinggang, dsb. Juga tak ketinggalan ruang khusus isolasi yang menjadikan anak trauma dengan situasi tersebut di masa depan.
Keempat adalah sexual abuse, kekerasan terhadap anak berupa pemerkosan, ataupun kekerasan sex lainnya. Pelakunya bisa keluarga dekat atau orang lain yang tak dikenal. Pada beberapa kasus, justru orangtua korban sendiri yang melakukannya.
Berbagai model kekerasan pada anak tersebut telah lekat dalam kehidupan bermasyarakat kita. Survei yang dilakukan Kompas (Kamis, 23/05/2002) tentang kekerasan domestik atau kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan keluarga menduduki porsi terbesar dalam kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia 3-6 tahun.
Ironisnya dari sejumlah kasus tersebut, ternyata sebanyak 80% kasus kekerasan yang menimpa anak-anak dilakukan oleh keluarga mereka, 10% terjadi di lingkungan pendidikan, dan sisanya orang tak dikenal. Bahkan Komnas Perlindungan Anak mencatat terjadinya 688 kasus kekerasan pada anak, 381 meliputi kekerasan fisik dan psikologis. Dan 80 persen pelaku kekerasan adalah ibu kandung korban.
Keluarga dan orang terdekat (significant others) yang seharusnya melindungi dan menyayangi anak justru terkadang menjadi penyebab anak menemui ajalnya. Lantas bagaimana? Lazimnya interaksi antara orangtua dan anak dalam kehidupan sehari-hari melahirkan model transformasi nilai atau bahkan pewarisan budaya yang dianut orangtua. Nilai-nilai itulah yang kemudian dijadikan sebagai pegangan bagi anak untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas pada fase kehidupan selanjutnya. Dengan begitu jelas nilai-nilai yang dimiliki orangtua memberi pengaruh besar terhadap kehidupan seorang anak memiliki pengaruh langsung terhadap anak, dibanding nilai-nilai masyarakat.
Jadi dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi pada generasi anak-anak berikutnya, jika dalam interaksi tersebut mereka mengalami tindak kekerasan, pelecehan, penistaan ataupun penghinaan. Jangan berharap banyak dari generasi semacam ini, generasi ini dapat hidup survive -dengan tanpa mengalami trauma apapun, meski itu sulit terjadi- saja sudah merupakan prestasi tersendiri.
Kekerasan yang menimpa anak, selain dapat membuat cedera pada fisik anak, juga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mental atau psikis anak. Dampaknya anak dapat menjadi trauma, ketakutan, minder, dan kurang memiliki rasa percaya diri, sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari, bahkan ada yang akhirnya ingin membunuh ibu/bapaknya/orang yang menyakitinya jika ia bertemu. Selain itu, dan ini yang tampaknya sangat menakutkan adalah saat anak tersebut menjadi dewasa, maka akan muncul kecenderungan dia akan menerapkan hal yang sama sebagaimana dialaminya di masa kecil.
Mereka yang dididik dengan sangat keras, disiplin yang penuh kekerasan, atau pembiaran yang menyakitkan di masa kecil mereka, maka ketika anak-anak itu dewasa dan menjadi orangtua, mereka melakukan hal yang sama terhadap anak-anaknya. Hal ini karena, kekerasan yang diterima anak semasa kecil, akan terekam dalam memorinya. Selanjutnya itulah budaya yang diwariskan orangtua mereka kepada anak-anaknya, dan secara tidak sadar mereka akan menerapkan budaya itu pada fase kehidupan mereka selanjutnya. Lantas, kapan mata rantai ini akan terputus?
Anak tak pernah meminta untuk dilahirkan sebagaimana juga anak tak dapat memilih dari rahim ibu mana ia harus dilahirkan. Anak tak dapat menentukan orang tua seperti apa yang akan ia miliki. Dan jika atas nama Kuasa Tuhan, anak dapat menentukan pilihannya, maka dia akan memilih yang terbaik untuk dirinya, dan barangkali itu bukan kita.
Dan jika, saat ini mereka ada, maka semua itu karena konspirasi orang tua mereka, yang atas mengatas namakan perkawinan dan ingin melengkapi kebahagiaan perkawinan dengan mempunyai keturunan atau anak. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, anak bukan hanya sekadar pelengkap kebahagiaan, tetapi hal itu memaknai banyak simbol yang terkadang tak terkatakan, dan manakala sebuah keluarga tidak mempunyai anak, perkawinan mereka akan dicemooh.
Namun, atas nama orangtua mereka melakukan kekerasan sebagai upaya pembentukan sikap dan kepribadian anak, benarkah? Begitu besarkah kekuasaan orangtua pada anak, hingga hak hidup anak-pun dapat mereka tentukan. Orangtua memposisikan sebagai Tuhan, yang menjadi penentu segala aktivitas bahkan kehidupan anak itu sendiri.
Jika di rumah mereka sendiri anak mengalami kekerasan, maka dimana tempat yang aman bagi anak untuk berlindung dan kepada siapa mereka harus berlindung? Jadi cukup sudah kekerasan pada anak saat ini, jangan lagi sejarah berulang hanya karena kita –sebagai orangtua- mengangap anakku adalah miliku.

Comments

Comment from adi nugroho
Time: March 7, 2009, 12:34 am

pak..
saya mengalami kekerasan pada masa kecil, hal tersebut di lakukan oleh ibu kandung saya..
saya sekarang mulai merasakan dampak-dampak kekerasan yang saya alami di masa kecil,

saya merasa benci kepada ibu saya..
tapi terkadang saya merasa sayang dan cinta karna beliau adalah orang yang telah melahirkan saya...

Comment from noname
Time: November 17, 2009, 11:12 am

ass. saya juga sering mengalami siksaan baik fisik apalagi psikis dimasa kecil. saya sering ditendang, dipukul sampai biru2, dibentak. dan kekerasan lainnya. akibatnya sekarang meski saya sudah menikah dan punya anak balita saya masih suka trauma, kadang berhalusinasi. kadang saya merasa ada kepribadian lain dalam diri saya. saya juga jadi keras hati dan sifat. kadang sesekali saya suka memukul, mengurung dalam kamar gelap dan membentak anak balita saya dgn tanpa alasan. tapi setelah saya sadar, saya buru2 istighfar dan memeluk dan mencium anak saya itu. saya takut, trauma ini berkelanjutan. dan saya tak mau ini menimpa anak saya juga. apa yg harus saya lakukan agar sembuh dan saya lemah lembut pada anak saya???

Comment from KKK
Time: June 28, 2010, 10:19 pm

ass.sejak kecil saya sudah biasa di siksa secara batin dan fisik.bagi saya ditampar bukan hal yang tak biasa,hal itu saya dapatkan bila saya berbuat salah meski sekecil apapun salah saya.saya merasa banyak membebani mereka maklum saat saya bayi saya menderita paru paru basah.karna hal itu orang tua saya mengeluarkan banyak uang.mareka juga suka membanding-bandingkan saya,saya sering berfikir tuk mati tapi saya takut.saat ibu dan ayah saya bangkrut saya sama sekali tak merasa sedih.dan bila saya mendapat tamparan darinya saya sering merasa sakit kepala dan membayangkan suatu kejadian yang tak mengenak kan..saya juga pernah bolos sekolah berulang ulang kali,dan kabur dari rumah.memang terkadang mereka menunjukan kasih sayang mereka pada saya tapi serperti meminta imbalan dan tak ikhlas.
tapi saya tetap cinta pada mereka I LOVE MAM AND DED...

Comment from xxx
Time: July 17, 2010, 11:56 am

ass
Kluarga saya adalah kluarga yang sangat otoriter, anak tdk memiliki hak utk memilih pendidikan. Hanya ortu yang berhak. Jika salah sedikit pasti akan di pukul dan parahnya ibu kandung saya suka menghina dengan menyebut nama binatang. Akhirnya smpat itu menular kepada saya.
Saya skr sudah menikah dan melhirkan seorang bayi yang sangat cantik, Apabila saya sedang betengkar dengan suami, dengan tidak sadar saya selalu melampiaskan marah saya kepada anak saya dengan cuek kepadanya ini semata-mata agar saya tidak memukul. Tapi Alhamdulilah,,smua keinginan ingin memukul anak saya selalu saya tepis, karena saya tau sekali saya memukul pasti saya akan keranjingan utk memukul anak saya.

Comment from shella
Time: August 12, 2010, 10:53 am

bertubi2 saya mngalami kekerasan yg dilakukan oleh ibu saya sendiri kepada saya dan ke 2 adik saya dengan cara memukul... meninju..... serta mencaci...dn tidak diberi makan, selalu melarang apa yg kami mau..padahal tujuan kami adalah tujuan baik, bahkan terkadng apabila salah satu teman saya dtg kerumah ibu saya menerima dengn berat dan bahkan mengusir begitu saja hingga temn/shbt saya takut tuk datg kerumh. smpai detik ini hal tu berangsur terjadi namun tidak separah be2rapa tahun yang lalu, karena saya saat ini berani untuk selalu melndungi adik2 saya dan terkadang terpaksa membalas, saya sebagai anak pertama sangat terpukul.......dan trauma dan membenci ibu saya sendiri.... pdhl saya juga tidak mau untuk membenci bliau. saya membutuhkan saran n motivasi dari anda untuk menghadapi situasi ini?

Comment from shella
Time: August 12, 2010, 10:54 am

ass bertubi2 saya mngalami kekerasan yg dilakukan oleh ibu saya sendiri kepada saya dan ke 2 adik saya dengan cara memukul... meninju..... serta mencaci...dn tidak diberi makan, selalu melarang apa yg kami mau..padahal tujuan kami adalah tujuan baik, bahkan terkadng apabila salah satu teman saya dtg kerumah ibu saya menerima dengn berat dan bahkan mengusir begitu saja hingga temn/shbt saya takut tuk datg kerumh. smpai detik ini hal tu berangsur terjadi namun tidak separah be2rapa tahun yang lalu, karena saya saat ini berani untuk selalu melndungi adik2 saya dan terkadang terpaksa membalas, saya sebagai anak pertama sangat terpukul.......dan trauma dan membenci ibu saya sendiri.... pdhl saya juga tidak mau untuk membenci bliau. saya membutuhkan saran n motivasi dari anda untuk menghadapi situasi ini?

Comment from sanera
Time: September 3, 2010, 2:26 pm

asalamualaikum.
saya juga mengalami kekerasan di masa kecil saya. pukulan, tamparan, tonjokan, cambukan lidi atau rotan, dan macam-macamnya adalah hal yang sangat biasa bagi saya. terakhir kali saya dipukuli, adalah ketika saya menginjak kelas satu SMP. ibu saya tidak berani memukuli saya lagi, karena sehabis saya dipukuli saya langsung mens. (fyi, saya wanita). ibu saya memukuli saya, terkadang tanpa alasan. jika adik saya menangis, otomatis saya dipukuli. jika dia sedang kesal, saya juga dipukuli. tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali adik saya dan ayah saya. namun, karena ibu saya sangat mendominasi di rumah, ayah saya pun tidak berani padanya. adik saya juga mendapat perlakuan yang kurang lebih sama. dampaknya pada saya sekarang, sepertinya saya mengalami gangguan psikotik. karena saya belajar tentang Psikologi, saya tahu bahwa ada kemungkinan saya mengidap skizofrenia.

saat ini, saya telah berhasil 'melarikan diri' dari rumah dengan kuliah di luar kota. karena meskipun ibu saya telah berhenti memukuli saya, secara mental dia masih 'memukuli' saya. dia tidak pernah puas dengan apa yang saya lakukan untuk membanggakannya. dia menjadi orang yang paling menyakiti saya. dan dia selalu menjatuhkan saya. bahkan, dia tak pernah benar-benar tahu siapa saya.

belakangan ini, saya menjadi lebih berani, karena saya sadar apa yang telah dilakukannya dan dampaknya pada saya, ketika saya belajar Psikologi. saya menjadi membencinya, kadang-kadang malah ingin membunuhnya, atau saya ingin merasa sejauh-jauhnya dengannya. ayah saya jarang di rumah, dan begitu sibuk dengan pekerjaannya. ayah juga punya penyakit jantung, jadi, saya tidak tega jika curhat pada beliau.

saya sudah berusaha memberitahu ibu saya apa yang saya rasakan, apa yang telah dia lakukan dan apa dampaknya untuk saya sekarang. tapi dia seolah tidak peduli. seolah pukulan itu adalah bagian dari didikan yang bagus, karena saya selalu ranking satu ketika sekolah dasar. dan masih cukup pintar di smp dan sma. saya bingung, karena saya menjadi orang yang sangat introvert, mudah membenci orang jika mereka berbuat tidak menyenangkan saya. saya ingin ibu saya benar-benar sadar apa yang telah dilakukannya pada saya dan adik saya, karena, kami mengalami gangguan emosional yang sama. mudah berpikir untuk bunuh diri. jika saya mulai memberitahu ibu saya, dia akan mulai nyolot dan berkata meremehkan.

saat ini, saya belum bisa memaavkan dia. meskipun kadang-kadang saya merasa menyayangi dia, tapi sepertinya rasa dendam dan benci saya lebih besar. karena dia selalu menyalahkan saya untuk semua yang terjadi dalam kehidupannya. saya merasa lebih baik tidak dilahirkan. saya bingung harus bagaimana.

Comment from Kajian Islam
Time: January 12, 2011, 10:14 am

Assalamu Alaikum
Blog kami juga berisi kajian-kajian Islam, mari bersama-sama silaturahmi membangun ukhuwah islamiyah.

Comment from NN
Time: March 8, 2011, 9:33 pm

saya masih berumur 14tahun. tapi sejak saya masih kecil saya kerap sekali dibully oleh org tua saya. saya tau sebab ibu saya melakukan hal tersebut karna saya nakal. tapi apa pantas seorang orang tua apalagi itu ibu melakukan hal seperti itu? dan yg lebih parahnya lagi pada saya berumur 13thun pada kejadian itu saya membawa laptop ibu saya tanpa memakai tas laptop tersebut. pas saya pulang saya langsung dihajar, ditendang, dipukul, ditimpa sama ibu saya. saya sangat jelas sekali kejadian itu. sampai2 saya mengalami sakit kepala yang luarbiasa sekali. tanpa saya sadar sekujur badan saya sudah biru2 dan merah2. pada saat itu badan saya disentuh oleh seorang teman saya. sampe sekarng ibu saya kerap sekali menghajar saya ketika saya membuat kesalahan. saya tdk bisa menulis apa2 tentang hati saya saya sangat sakit hati sampe2 pernah membenci ibu saya dan menganggap dia bukan ibu kandung saya. mungkin anak remaja lainnya tidak bernasib malang seperti saya. wassalam.

Comment from anto
Time: March 17, 2012, 10:00 pm

tolong jagain bayi loe. jgn sape kaya aku shock tekanan batin

Comment from crysanda flow day
Time: May 16, 2012, 10:38 pm

Tak ada sedikitpun kebahagiaan dimasa kecilku, yang ada kata-kata kasar dan pukulan dari ibu kandungku. Sedikit pun tak pernah kurasakan kasih sayang darinya, yang ada hanya celaan biarpun aku punya prestasi. Aku slalu dibedakan dengan kakakku, dan banyak peristiwa buruk yang ku alami dimasa kecil. Semua itu masih segar dalam ingatan dan kupendam sendiri. Biarpun itu ibu/saudara, sekarang setelah aku dewasa tak pernah menganggap mereka ada walaupun aku masih menghormatinya sekedar manis dibibir saja. Aku lebih menyayangi suami & anakku, mereka yang beriku bahagia. Sakit jika mengingatnya, tapi mau kemana lagi itu orangtua dan keluarga kita? Semua tak bisa terhapus begitu saja.

Write a comment





*

Related articles